Sayangi Kotamu dari Sekarang !
oleh: Lusyana Sutanto
Banyak yang sering menganggap melakukan hal kecil
tidak mempunyai dampak yang besar. Seperti halnya kita membuang sampah di
sungai, memang tidak muncul dampaknya. Namun, jika ada 1000 orang yang
melakukan hal yang sama bukannya malah muncul dampak buruk yang tidak
diinginkan seperti banjir akibat banyak sampah yang mengendap.
Kalau sudah begitu siapa yang mau disalahkan? warga
sekitar? keluarga? atau pemerintah? Pertanyaan yang utama, apakah kita sudah
melakukan hal yang benar seperti buang sampah pada tempatnya? Jika belum, kita
tidak bisa menyalahkan orang lain. Kita tidak layak untuk menyalahkan mereka
semua.
Mengapa begitu? Karena kita sama dengan mereka yang
tidak melakukan apa-apa malah berbuat sesuatu yang tidak baik. Pemerintah hanya
membantu dalam membenahi penampungan sampah, waduk, saluran air dan yang
lainnya. Sisanya, kita sebagai warga negara yang harus merawat dan menjaganya.
Buat apa jika waduk, saluran air dan lainnya dibenahi
tetapi tidak dijaga? Sama saja dengan kita merusaknya dan yang menyebabkan
terjadinya banjir. Mungkin dampak dari banjir sendiri sudah dianggap “biasa”
oleh sebagian kalangan apalagi yang daerah tempat tinggalnya yang selalu
terkena banjir.
Namun, apakah hal tersebut harus dibiarkan begitu saja
dan hanya terus mengeluh dengan menganggap kinerja pemerintah yang kurang? “Buang
sampah pada tempatnya”, “Jangan buang sampah sembarangan”, adalah slogan yang
selalu ada dimana-mana, entah itu di dekat tempat sampah atau tempat lainnya.
Slogan tersebut bukan hanya terpajang untuk dibaca
saja, tetapi untuk selalu mengingatkan kita tentang langkah kecil apa yang
dapat kita lakukan untuk menjaga tempat
kita tinggal, bekerja, berkumpul dengan teman dan keluarga, dan menjadi tempat
untuk kita hidup.
Masih ada yang bingung sampah itu apa? Sampah merupakan salah satu yang
dihasilkan manusia dalam kehidupan sehari-hari, apabila tidak terkelola dengan
baik, akan berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
Sampah dibagi menjadi beberapa macam, diantaranya
sampah organik dan anorganik. Sampah organik adalah sampah yang berasal dari daun,
kayu, bangkai hewan, bangkai tumbuhan, sisa makanan, dan lainnya. Sampah organik
dapat diurai menjadi kompos.
Sedangkan, sampah anorganik adalah sampah yang berasal
dari sisa manusia yang lama diurai dan memerlukan waktu untuk dapat diurai. Contoh
sampah anorganik adalah plastic, kemasan makanan, botol dan gelas.
Menurut Bapak Ir. R. Sudirman, MM selaku director
pengelolaan sampah kementerian lingkungan hidup dan kehutanan, Faktor yang meyebabkan peningkatan
jumlah sampah adalah meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk, pengelolaan
sampah yang belum memadai, penegakan hukum yang belum berjalan dengan baik,
serta kepedulian, mentalitas dan kedispilinan masyarakat yang masih kurang.
Kepedulian, mentalitas dan kedisiplinan masyarakat
yang masih kurang adalah sebagian faktor yang bisa kita benahi sebagai warga
negara untuk kota dan lingkungan yang kita cintai.
Cara sederhana yang dapat kita lakukan adalah buang
sampah pada tempatnya dan tak lupa “tegur” teman / siapapun disekitar kita,
yang kita lihat mereka ingin atau malah sedang membuang sampah sembarangan. Dan
juga buanglah sampah sesuai dengan tempatnya jika ada pembagian untuk organik
dan anorganik.
Seperti kata Virgitta Septyana sewaktu pidato diacara
penutupan Social Science Week, “Jangan menyalahkan orang lain karena
kerusakan bumi, jangan menunggu tindakan dari orang lain untuk memperbaiki
bumi, stand up and take actions". Kalau
bukan kita dulu siapa lagi?
sumber pengertian sampah dari:
http://www.dosenpendidikan.com/pengertian-dan-10-jenis-sampah-organik-serta-an-organik/

thanks untuk yg membuat postingan ini, dngan ringkasan yg simple tanpa berbelit-belit tapi mempunyai inti yg baik & dalam, berarti dngan pnjelasan dari informasi ini sudah jlas, kita lah yg hrus menjaga agar lingkungan ini menjadi bersih & terbebas dari banjir agar kelak generasi selanjut nya tidak merasakan lagi ketidaknyamanan ini.....
BalasHapus